THE BUSINESS PLAN :
USAHA PENGOLAHAN
JAGUNG, LU’AT TRADISIONAL , PEMANFAATAN KAYU CENDANA DAN PEMBUATAN SYAL BERMOTIF
OLEH
KELOMPOK 3
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TIMOR
KEFAMENANU
2017
ABSTRACT
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu sumber
antioksidan yang dapat melawan kanker yang disebabkan oleh radikal bebas yang
kaya akan senyawa fenolik asam ferulic, agen anti kanker yang telah terbukti
efektif dalam memerangi tumor pada kanker payudara dan kanker hati. minyak
jagung telah menunjukkan efek anti aterogenik pada tingkat kolesterol, sehingga
mencegah resiko penyakit jantung, mencegah anemia karena mengandung vitamin
B12. Jagung sangat potensial untuk diolah menjadi makanan tradisional seperti
bose, dengan cara : jagung direndam selam ± 15 menit, ditumbuk hingga kulit
arinya terkelupas, ditapis hingga bersih, dijemur hingga kering dan dicampuri
dengan kacang hijjau dan kacang tanah lalu dibungkus menggunakan plastic bening
berlabel. Untuk menambah cita rasa pada bose, maka perlu dihidangkan dengan
sambal lu’at yang terasa pedas dimulut, sebagai pembangkit selera makan. Sambal
lu’at sangatlah prakis dalam proses pembuatannya, yakni Lombok dan bawang putih
di mol menggunakan alat mol, Jeruk nipis diiris tipis, dicampur dengan garam
dan ajinomoto secukupnya lalu diisi di dalam botol sedang berlabel. Produk obat
herbal dari kulit kayu cendana ( Santalum
Album Linn .) dapat dimanfaatkan sebagai obat Anti peradangan, mencegah
disentri dan gangguan pencernaan lain serta dapat menjadi pembersih pada saat
menstruasi. Proses pembuatan obat herbal dari kulit kayu cendana sangatlah
mudah yakni, Giling atau blender kulit kayu cendana hingga menjadi halus, seduh
hasil gilingan kulit kayu cendana dengan air panas, tunggu beberapa saat hingga
airnya berubah warna, lalu saring, lalu minumlah air hasil saringan bubuk kulit
kayu cendana tersebut. Produk tas bermotif kain tenun dapat dilakukan dengan
cara,yakni Persiapan alat dan bahan,
Benang digulung pada batu bulat, Benang dirangkai pada rangka kayu berbentuk
persegi panjang, Benang yang telah dirangkai langsung ditenun (teknik tenun
sotis dan buna).
Key point : jagung bose,
sambal lu’at, obat herbal dan syal bermotif
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Kebijakan
pemerintah dalam pelaksanaan ketahanan pangan dengan memanfaatkan semaksimal
mungkin pangan lokal sangat tepat karena tersedia dalam jumlah yang cukup di
seluruh daerah dan mudah dikembangkan di daerah setempat. Pangan lokal
merupakan bahan utama dalam pembuatan makanan tradisional berdasarkan resep
secara turun-temurun yang dikonsumsi oleh etnik di wilayah spesifik. Ini
berarti pangan tradisional mempunyai peran strategis dalam memantapkan
ketahanan pangan. Salah satu komoditas pangan lokal yang potensial diolah menjadi
aneka ragam olahan makanan tradisional adalah jagung. Jenis pangan tradisional
berbasis jagung beraneka ragam yang tersebar di seluruh nusantara. Dalam
beberapa dekade terakhir, pangan pokok di Indonesia, baik secara langsung
maupun tidak, diarahkan pada komoditas beras. Dampak dari kebijakan ini adalah
meningkatnya kebutuhan beras nasional. Peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi
beras per kapita, serta bergesernya pola makan masyarakat dari nonberas ke
beras berdampak luas terhadap peningkatan kebutuhan beras nasional (Widowati
dan Damardjati 2000). Mengantisipasi masalah tersebut diperlukan upaya
mengangkat kembali makanan tradisional berbasis jagung baik sebagai pangan
pokok maupun kudapan. Pengembangan pangan olahan tradisional jagung dalam diversifikasi
pangan dapat mendukung ketahanan pangan.
Menurut
studi yang dilakukan di Cornell University, jagung merupakan salah satu sumber
antioksidan yang dapat melawan kanker yang disebabkan oleh radikal bebas. Jagung
merupakan sumber yang kaya akan senyawa fenolik asam ferulic, agen anti kanker
yang telah terbukti efektif dalam memerangi tumor pada kanker payudara dan
kanker hati. Anthocyanin yang ditemukan dalam jagung ungu juga bertindak
sebagai pemulung radikal bebas yang
dapat menyebabkan kanker. Selain itu
menurut para peneliti, minyak jagung telah menunjukkan efek anti aterogenik
pada tingkat kolesterol, sehingga mencegah resiko penyakit jantung. Jagung juga
dapat mencegah anemia. Vitamin B12 dan asam folat yang terdapat
dalam jagung mencegah anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin ini. Lebih
jauh lagi jagung dapat menurunkan Kolesterol Jahat (http://www.organicfacts.net/health-benefits/cereal/health-benefits-of-
corn.html). Jagung juga mengandung serat pangan
(dietary fiber) dengan Indeks Glikemik
(IG) relatif rendah dibanding beras dari padi
sehingga beras jagung menjadi bahan anjuran bagi penderita diabetes.
Kisaran IG beras atau padi (50-120) dan beras jagung (50-90) dan nilai tersebut
sangat relatif tergantung varietasnya. Isu di masyarakat bahwa jagung adalah pangan
sehat, bahkan bagi penderita penyakit gula (diabetes mellitus/DM) dan kelainan
jantung. Pasien diet dianjurkan secara medis untuk mengkonsumsi beras jagung
sebagai pangan pokok, atau makanan ringan berbasis jagung. Serat pangan
(terutama serat larut) mampu menurunkan kadar kolesterol dalam plasma darah
melalui peningkatan ekskresi asam empedu ke feses, selain itu serat pangan akan
mengikat kolesterol untuk disekresikan ke feses sehingga menurunkan absorpsi kolesterol
diusus. Jagung juga kaya akan komponen
pangan fungsional antara lain: serat pangan yang dibutuhkan tubuh (dietary fiber), asam lemak esensial,
isoflavon, mineral Fe (tidak ada dalam terigu), karoten (pro vitamin A),
komposisi asam amino esensial dan lainnya. Pangan fungsional saat ini berkembang
sangat pesat, seiring dengan semakin tingginya permintaan akan pangan
fungsional dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan, yang berkaitan dengan
semakin meningkatnya
populasi lansia, adanya trend self medication,
berkembangnya produk komersial.
Salah
satu olahan pangan tradisional dari jagung adalah bose. Jagung bose merupakan
makanan pokok penduduk NTT. Dari asal -
usul nama, jagung bose memiliki arti jagung yang dilunakkan. Untuk cara
pembuatannya, jagung bose harus melewati proses yang cukup panjang. Bose merupakan
makanan yang berbahan dasar jagung dengan campuran kacang – kacangan sebagai
pengganti karbohidrat nonberas, rendah gula atau dapat dikonsumsi oleh
penderita Diabetes Militus (DM), menurunkan resiko penyakit jantung serta
kandungan wasabi yang sangat baik untuk kulit, mempunyai nilai jual dan dapat
menarik konsumen. Makanan tradisional bose sangatlah nikmat apabila dihidangkan
bersamaan dengan sambal Lu’at yang terasa pedas dimulut sebagai penambah selera
makan. Sambal lu’at merupakan pelengkap menu hidangan baik dirumah maupun dalam
acara resmi.
Cendana
( Santalum Album Linn .) merupakan
jenis tanaman yang tergolong sangat penting di Propinsi Nusa Tenggara Timur
karena mempunyai nilai ekonomi tinggi dan merupakan species endemik yang
terbaik di dunia. Sejak puluhan tahun lalu komoditi tersebut telah menjadi
andalan dalam perdagangan di Propinsi Nusa Tenggara Timur serta telah memberikan kontribusi penting
kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun demikian telah terjadi eksploitasi
cendana yang memanfatkan potensi pohon/tegakan alami yang kurang diikuti oleh
upaya penanaman dan pemulihan potensi dan mengesampingkan upaya pelestarian.
Selain itu kebijakan pengelolaan cendana yang belum sempurna dan tepat guna
sehingga belum dapat memberikan manfaat optimal terhadap daerah dan
masyarakatnya. Salah satu manfaat kayu cendana bagi
tubuh kita adalah dapat menjadi obat herbal.Biasanya bagian yang digunakan
sebagai obat herbal adalah bagian kulit kayu serta minyak dari pohon cendana.
Berikut ini khasiat obat herbal dari pohon cendana yaitu, Anti peradangan,
Mencegah disentri dan gangguan pencernaan lain, dapat menjadi pembersih pada
saat menstruasi. Metode atau cara pengolahan kayu cendana menjadi obat herbal yaitu,
Giling atau blender kulit kayu cendana hingga menjadi halus, Seduh hasil
gilingan kulit kayu cendana dengan air panas, Tunggu beberapa saat hingga
airnya berubah warna, lalu saring,Minumlah air hasil saringan bubuk kulit kayu
cendana tersebut.
Tenunan
yang dikembangkan oleh setiap suku atau etnis di Nusa Tenggara Timur merupakan seni
kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian
seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai
ciri khas dari suku atau pulau mana orang itu berasal. Pada suku atau daerah tertentu,
corak atau motif binatang atau orang-orang lebih banyak ditonjolkan seperti
Sumba Timur dengan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan,
pohon tengkorak dan lain-lain, sedangkan Timor Tengah Selatan banyak menonjolkan
corak motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Bagi daerah-daerah lain corak
motif bunga-bunga atau daun-daun lebih ditonjolkan sedangkan corak motif
binatang hanya sebagai pemanisnya saja.
Kain tenun atau tekstil tradisional dari
Nusa Tenggara Timur secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi seperti :
1) Sebagai
busana sehari-hari untuk melindungi dan menutupi tubuh.
2) Sebagai
busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta atau upacara adat
3) Sebagai
alat penghargaan dan pemberian perkawinan (mas kawin)
4) Sebagai
alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian.
5) Fungsi
hukum adat sebagai denda adat untuk mengembalikan keseimbangan sosial yang
terganggu.
6) Dari segi ekonomi sebagai alat tukar.
7) Sebagai
prestise dalam strata sosial masyarakat.
8) Sebagai
mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak atau desain tertentu akan
melindungi mereka dari gangguan alam, bencana, roh jahat dan lain-lain.
9)
Sebagai alat penghargaan kepada tamu
yang datang (natoni)
Dalam masyarakat tradisional Nusa
Tenggara Timur tenunan sebagai harta milik keluarga yang bernilai tinggi karena
kerajinan tangan ini sulit dibuat, oleh karena dalam proses pembuatannya atau penuangan motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi
penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal. Tenunan sangat
bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti
dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki
nilai spiritual dan mistik menurut adat. Dalam
perkembangannya, kerajinan tenun merupakan salah satu sumber pendapatan (UP2K)
masyarakat Nusa Tenggara Timur terutama masyarakat di pedesaan. Pada umumnya wanita
di pedesaan menggunakan waktu luangnya untuk menenun dalam upaya meningkatkan pendapatan
keluarganya dan kebutuhan busananya.
Jika dilihat dari proses
produksi atau cara mengerjakannya maka tenunan yang ada di Nusa
Tenggara Timur dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni :
1) Tenun
Ikat; disebut tenun ikat karena pembentukan
motifnya melalui proses pengikatan benang. Berbeda dengan daerah lain di
Indonesia, untuk menghasilkan motif padakain maka benang pakannya yang diikat,
sedangkan tenun ikat di Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan motif maka benang
yang diikat adalah benang Lungsi.
2) Tenun
Buna; istilah daerah setempat (Timor
Tengah Utara) “tenunan buna” yang maksudnya menenun untuk membuat corak atau ragam
hias atau motif pada kain mempergunakan benang yang terlebih dahulu telah diwarnai.
3) Tenun
Lotis atau Sotis atau Songket; disebut juga tenun Sotis atau tenun
Songket, dimana proses pembuatannya mirip dengan pembuatan tenun Buna yaitu mempergunakan
benang-benang yang telah diwarnai.
Berdasarkan
uraian diatas, maka dalam kesempatan ini, kami menyajikan suatu pilihan kuliner
pada tugas kewirausahaan program kreativitas mahasiswa dengan mengambil judul “Usaha Pengolahan Jagung, Lu’at Tradisional ,
Pemanfaatan Kayu Cendana dan Pembuatan Syal Bermotif ”
1.2 TUJUAN
1)
Menciptakan
produk olahan jagung dengan variasi kacang- kacangan dan produk sambal lu’at
sebagai penambah selera makan.
2) Menciptakan produk olahan kulit cendana
sebagai obat herbal dan produk tas dari kain tenun bermotif
3) Memanfaatkan peluang usaha yang terbuka
lebar dibidang industri makanan sehat dan industry tekstil
4) Memperkenalkan produk bose, sambal lu’at,
obat herbal dari kulit cendana dan tas dari kain tenun bermotif .
1.3 MANFAAT
1)
Untuk
Perguruan Tinggi
Adanya Olahan Jagung Sebagai Pengganti Menu Pokok
Beras dan sambal lu’at Bercita Rasa Global diharapkan dapat memperkaya bidang
kewirausahaan dalam produk pangan dan gizi. Adanya produk olahan kulit
cendana dan produk tas dari kain tenun
bermotif dapat memperkaya bidang kewirausahaan dalam produk inustri tekstil.
2)
Untuk
Mahasiswa
Program ini dapat meningkatkan kreativitas,
inovasi serta mampu bekerja sebagai team work, selain itu program ini juga bisa
membantu penghasilan meningkatkan pendapatan dan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa.
3)
Untuk
Masyarakat
Program ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi
karbohidrat pada masyarakat dan mengurangi masalah gangguan penyakit yang
disebabkan kekurangan karbohidrat, sehingga pada akhirnya tercipta masyarakat
yang sejahtera dan dapat meningkatkan
pemanfaatan daun cendana sebagai obat
herbal pada kalangan masyarakat dan mengurangi
masalah gangguan penyakit, serta meningkatkan pemodifikasian terhadap kain
tenun bermoti sesuai keinginan konsumen.
BAB II
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1 DESKRIPSI USAHA
1)
Data perusahaan
Nama : Men Pen’na
Tempat : Kefa - Nusa Tenggara Timur
Bentuk Usaha : Pengolahan jagung menjadi makanan
tradisional dan sambal lu’at bercita
rasa.
Pengolahan kulit cendana menjadi obat
herbal dan modifikasi kain tenun bermotif menjadi syal.
2)
Data Pengusaha
Nama : Men Pen’na
Alamat : Desa Naiola,Kec.
Bikomi selatan,Kab.TTU
3)
Alasan Menjalankan
Usaha:
ü Adanya
peningkatan kebutuhan beras nasional, Peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi
beras per kapita, serta bergesernya pola makan masyarakat dari nonberas ke
beras berdampak luas terhadap peningkatan kebutuhan beras nasional dan
mengingat manfaat jagung yang sangat penting bagi kesehatan tubuh, seperti
mencegah anemia, anti-kanker, menurunkan kolesterol dll. Dan akan lebih nikmat
lagi bila jagung bose disajikan bersamaan dengan sambal Lu’at sebagai penambah
atau pembangkit selera makan.
ü Adanya
khasiat pada kayu cendana khususnya pada kulit yang bisa dimanfaatkan sebagai
obat herbal
ü Kain
tenun bermotif sangat potensial untuk dimodifikasi sesuai kebutuhan konsumen.
4)
Kelebihan Dari bisnis:
Ada
banyak alasan mengapa bisnis Men Pen’na memperoleh kelebihan untuk
dijalankan diantaranya:
a. Mudah
dijalankan
b. Harga
pasar yang menjanjikan
c. Persediaan
bahan baku yang sangat potensial
d. Pangsa
pemasaran yang terjangkau
5)
Bentuk Rencana
Organisasi
a.
Bentuk Kepemilikan : Kelompok
b.
Mitra / Pemegang Saham
utama : kelompok mahasiswa
c.
Otoritas Kepala Tim
Manajemen : Ketua Kelompok
d.
Latar Belakang :
Pemenuhan ekonomi
e.
Peran Dan Tanggung
Jawab Anggota :
Mengupayakan produktifitas pangan local, pemanfaatan hasil hutan kayu cendana
dan pemodifikasian kain tenun bermotif
serta ikut terlibat dalam kegiatan kelompok.
6)
Distribusi
Penjualan jagung bose, sambal
lu’at, syal bermotif dan obat
herbal dari kulit cendana dilaksanakan
dengan pelanggan memesan dan datang ke tempat pameran. Pelanggan dari kalangan
masyarakat TTU terutama penduduk perumahan BTN. Promosi yang diupayakan dapat
berupa sarana media social yang ada, seperti, facebook, iklan, dan penyebaran
pamflet pada tempat strategis dan melakukan pameran sehingga pelanggan
mendapatkan informasi dengan mudah.
7)
Analisis Harga Pasar
Ø Target
Pasar
Potensi usaha
pengolahan jagung, pembuatan sambal Lu’at, pembuatan obat herbal dari kulit
cendana dan pembuatan syal
dari kain tenun bermotif, cukup menyebar merata diseluruh wilayah Indonesia
terutama di NTT. Namun demikian jumlah produksi tersebut masih belum memenuhi
permintaan untuk pasar nasional dan internasional. Sehingga dalam rencana usaha
bisnis ini ditargetkan untuk mengisi kebutuhan pasar local, yaitu di perumahan
BTN dan masyarakat TTU, pasar nasional bahkan internasional.
2.2
Gambaran Tentang Produk
a. Produk yang ditawarkan berupa
1) jagung bose
2) sambal lu’at
3) obat herbal
4) tas bermotif
b.
Alat
dan bahan
1)
jagung
bose
ü lesung dan alu
ü nyiru
ü plastik
ü jagung 10 kg dan
ü kacang
- kacangan 5 kg
2) sambal lu’at
ü mol
ü senduk
ü piring
ü Lombok 2 kg
ü Kemangi secukupnya
ü Garam secukupnya
ü Jeruk nipis
ü Bawang putih 1 kg
3) Obat herbal
ü Kulit kayu cendana 2 kg
ü Air panas secukupnya
ü Saringan atau pengayak
4) syal bermotif
ü Benang warna masing – masing 20 utas
(disesuaikan dengan warna motif)
ü Lilin lebah
ü Mesin jahit
c. Prosedur kerja
1) jagung bose
ü siapkan alat dan bahan
ü jagung direndam selam ± 15 menit
ü jagung di tumbuk hingga kulit arinya
terkelupas
ü ditapis hingga bersih
ü dijemur hingga kering
ü dicampuri dengan kacang hijjau dan kacang
tanah
ü dibungkus menggunakan plastic bening
berlabel
2) sambal lu’at
ü siapkan alat dan bahan
ü Lombok dan bawang putih di mol menggunakan alat mol
ü Jeruk nipis diiris tipis
ü Dicampur dengan garam dan ajinomoto
secukupnya
ü Di isi di dalam botol sedang
3) obat herbal
ü Giling atau blender kulit kayu cendana
hingga menjadi halus
ü Seduh hasil gilingan kulit kayu cendana
dengan air panas
ü Tunggu beberapa saat hingga airnya berubah
warna, lalu saring
ü Minumlah air hasil saringan bubuk kulit
kayu cendana tersebut.
4) syal bermotif
ü Persiapan alat dan bahan
ü Benang digulung pada batu
bulat.
ü Benang dirangkai pada rangka kayu berbentuk
persegi panjang
ü Benang yang telah dirangkai langsung ditenun
(teknik tenun sotis dan buna)
2.3 Strategi Pemasaran
Ø
Segmentasi
(Segmentation)
Pangsa pasar produk ini dibagi menjadi 3 segmen,
yaitu kelompok mahasiswa terutama mahasiswa UNIMOR, kelompok umum seperti
dosen, karyawan dan masyarakat sekitar kampus UNIMOR serta masyarakat Indonesia
seluruhnya yang berminat.
Ø
Target
(Targetting) Target utama dalam
pemasaran produk ini adalah kelompok mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus
UNIMOR.
Ø
Penempatan
atau Citra Produk (Positioning)
Positioning merupakan citra produk atau jasa yang ingin dilihat
oleh konsumen. Persepsi konsumen terhadap produk merupakan kunci dari
positioning. Produsen seringkali menginginkan produknya sebagai produk unik
dimata konsumen. Produk ini pun juga diharapkan dapat menjadi produk yang unik,
makanan sehat yang disukai konsumen
serta bermanfaat bagi kesehatan konsumen.
2.3 Rencana Pemasaran
Ø Produk
bose, sambal lu’at obat herbal dan syal bermotif merupakan produk unggulan khas NTT yang
sangat digemari oleh kalangan masyarakat baik dari anak-anak sampai orang
dewasa. Proses pembuatan produk ini sangat praktis dan mudah diterapkan dalam
industry rumah tangga (Home Industry).
Ø
Harga
Produk ini akan dijual dengan harga:
1.
Jagung
bose : Rp. 20.000/ kg
2.
Sambal
luat : Rp. 5.000/ botol
3.
Obat
herbal : Rp. 20.000/bgks
4.
Syal
bermotif : Rp. 75.000/ lbr
Ø
Tempat
Tempat pemasaran yang dipilih untuk produk awal
usaha yaitu di kampus UNIMOR. Lokasi pemasaran
yang dipilih merupakan lokasi yang strategis, akses masuk mudah dan pengeluaran
biaya yang efisien.
2.5 Metode
Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan adalah analisis kandungan gizi bahan baku.
Kandungan gizi ini dijadikan keutamaan produk yang dihasilkan. Berikut ini
adalah daftar nilai gizi yang terkandung dalam jagung:
Tabel 1. Kandungan zat makanan per 100 gr
Jagung
|
Kalori
|
355 kalori
|
|
Protein
|
9,2 gr
|
|
Lemak
|
3,9 gr
|
|
Karbohidrat
|
73,7 gr
|
|
Kalsium
|
10 mg
|
|
Fosfor
|
256 mg
|
|
Ferrum
|
2,4 mg
|
|
Vitamin A
|
510 SI
|
|
Vitamin B1
|
0,38 mg
|
|
Air
|
12 gr
|
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 METODE PELAKSANAAN KEGIATAN
1)
Persiapan
tempat dan perlengkapan
2)
Promosi
dan publikasi
3) Produksi dan pemasaran produk
4) Evaluasi
a.
Persiapan
Pada tahap
persiapan ini kegiatan yang akan dilakukan untuk menentukan lokasi tempat
produksi dan pemasaran lengkap dengan layoutnya, peralatan produksi dan
pengadaan bahan baku.
b.
Promosi dan Publikasi
Pada tahap pelaksanaan ini dilakukan beberapa
langkah :
ü Membuat media promosi (brosur, leaflet,
grand opening outlet dan launching melalui media social network online).
ü Melakukan uji tester produk kepada
sekelompok orang untuk menarik konsumen.
c.
Produksi
dan Pemasaran Produk
Hal yang pertama dilakukan adalah launching
produk pada minggu pertama penjualan,
dan pada minggu-minggu selanjutnya dilakukan penjualan serta pemasaran produk
kepada masyarakat melalui media sosial.
d.
Evaluasi
Program Tahap yang terakhir adalah evaluasi
program, setelah program selesai dijalankan dilakukan evaluasi.
3.2 Instrumen Pelaksanaan
Susunan
organisasi dari usaha ini sebagai berikut :
Jabatan organisasi terdiri dari:
a)
Penanggung
jawab Produksi dan Operasional
Mengelola produksi dan memastikan kelangsungan
perusahaan berjalan baik
b)
Penanggung
jawab Keuangan
Mencatat arus kas masuk dan keluar serta
bertanggung jawab mengelola keuangan perusahaan.
c)
Penanggung
jawab R&D
Menciptakan produk baru atau menyempurnakan produk
yang sudah ada di pasaran.
d)
Penanggung
jawab Pemasaran
Mempromosikan dan memasarkan hasil produk
perusahaan.
3.3 Biaya dan Jadwal kegiatan
Anggaran Biaya
|
No
|
Uraian
|
Subtotal
|
|
1
|
Peralatan penunjang (investasi)
|
Rp. 750.000
|
|
2
|
Biaya operasional
|
Rp. 700.000
|
|
3
|
Biaya Transportasi
|
Rp. 500.000
|
|
4
|
Biaya bahan baku
|
Rp. 2.500.000
|
|
Total
|
Rp. 4.450.000
|
|
3.5
Kendala Dalam Perencanaan Usaha
Dalam
implementasi usaha atau bisnis cendrung menuai hambatan atau tantangan baik
dalam pemasaran, keterlibatan kelompok maupun dana penunjang. Hal yang melatar
belakangi penyusunan perencanaan bisnis gagal diantaranya :
1. Tujuan
yang ditetapkan oleh pengusaha tidak masuk akal.
2. Tujuan
tidak terukur ( pengusaha tidak membuat komitmen total untuk bisnis atau untuk
keluarga).
3. Pengusaha
tidak memiliki pengalaman dalam rencana bisnis.
4. Pengusaha
tidak memiliki arti potensi ancaman atau kelemahan untuk bisnis.