Minggu, 22 April 2018

Laporan Rancangan Percobaan


LAPORAN RANCANGAN  PERCOBAAN
“PENGARUH PUPUK BOKASHI TERHADAP TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM  L)”


OLEH KELOMPOK
1.      SEBASTIANUS B. BEREK              33140001 
2.  JENI S. BANI                                       33140005
3.      SANTISIA SARE                              33140006
4.      MARIA F. AFEANPAH                   33140012
5.      ADRIANA M. AEK                          33140022

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TIMOR
KEFAMENANU
2017













BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bawang merah (Allium Ascalonicum L) sebenarnya berasal dari asia tenggara diantaranya di cina dan jepang yang beriklim subtropik. Dari sini, bawang merah menyebar keseluruh Asia, Eropa, dan akhirnya keseluruh dunia. Di Indonesia bawang merah dibawah oleh pedagang cina dan arab, kemudian dibudidayakan di daerah pesisir atau daerah pantai seiring dengan berjalannya waktu kemudian masuk ke daerah pedalaman dan akhirnya bawang merah, akrab dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Peranannya sebagai bumbu penyedap masakan modern sampai sekarang tidak tergoyahkan oleh penyedap masakan buatan yang banyak kita temui di kemas sedemikian menariknya (Syamsiah,  2003).
Tanaman bawang merah (Allium Ascalonicum L) adalah tanaman holtikultura yang memiliki banyak manfaat terutama umbinya berguna sebagai bumbu untuk memasak dan dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit seperti infeksi pernapasan dan untuk meningkatkan vitalitas tubuh (Pratimi, 1995). (Wijaya, 2014) menyatakan  bahwa produksi bawang merah di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan kebutuhan pangan masyarakat sehingga menyebabkan selisih dan kekosongan yang cukup besar diantaranya konsumsi dan produksi dalam negeri.
Bawang merah (Allium Ascalonicum L), telah lama digunakan sebagai pemberi aroma dan berpotensi untuk mencegah serta menyembuhkan berbagai penyakit (amage et al. 2006). Banyak studi terbaru menunjukan efek farmakalogis bawang merah (Allium Ascalonicum L), seperti anti bakteri, anti jamur, hipolipidemik, hipoglikemik, anti trombotik, anti dioksidan (Song, 2011). Umbi bawang merah mengandung zat aktif allicin yang memiliki efek bakteriostatis dan bakteriosidal (untari, 2010). Jenis bawang merah (Allium Ascalonicum L) yang banyak ditemui di Indonesia adalah lumbuh hijau, luimbu kuning, Cirebon, tawangmangu, jenis iliocos dan Filipina dan jenis Thailand. Lumbuh hijau merupakan varietas unggul yang memiliki potensi produksi tinggi dan di anjurkan untuk ditanam (Rukmana, 2012).
Rendahnya produksi bawang merah sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain iklim, teknik budidaya, penggunaan varietas, dan serangan hama dan penyakit (sunarjo dan soedomo, 1989). Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah local melalui teknik budidaya adalah dengan pemberian pupuk bokashi. Pupuk bokashi, pupuk organik yang berbentuk cair atau padat. Pupuk bokashi merupakan alternative dalam penerapan teknologi pertanian organik yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Bokashi mempunyai prospek yang baik untuk dijadikan pupuk organic karena mempunyai kandungan unsur hara yang cukup tinggi. Pupuk bokashi dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organic dengan teknologi EM4 (effective mikroorganisme 4). Bakteri EM4 berfungsi untuk mempercepat proses pembusukkan, penggunaan pupuk bokashi sebagai pupuk organik, pada tanaman sangat diperlukan karena bahan organic menggantikan unsur hara tanah dan memperbaiki fisik tangah dan meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat unsur hara. Oleh karena itu, pupuk bokashi diharapkan mampu mendukung usaha pertanian dan bisa mengatasi kelangkaan serta mahalnya pupuk buatan yang terjadi pada saat ini (shoereayanto, 2002).
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah memiliki peran penting bagi kehidupan dibumi karena tanah mendukung kehidupan bagi tumbuhan dengan menyediakan unsur hara dan air yang sekaligus sebagai penopang akar. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan pengamatan komponen yang tumbuh yang meliputi, jumlah daun pada saat tanaman berumur 1 minggu setelah tanam.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana proses pertumbuhan bawang merah (Allium Ascalonicum L) dengan konsentrasi pupuk bokashi cair yang berbeda ?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pertumbuhan bawang merah (Allium Ascalonicum L) dengan konsentrasi pupuk bokashi cair yang berbeda.
1.4  Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang pengaruh pupuk bokashi terhadap bawang merah (Allium Ascalonicum L) dengan konsentrasi pupuk bokashi yang berbeda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)
Bawang merah merupakan tanaman rendah yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 15-50cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman semusim. Perakarannya berupa akar serabut yang tidak panjang dan tidak terlalu dalam tertanam dalam tanah (wibowo, 2008). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekat perakaran dan mata tunas. Dibagian atas discus terbentuk batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun dan batang semu berada di dalam tanah akan berubah bentuk dan fungsinya menjadi umbi (Rukmana, 1995).
Bentuk daun bawang merah bulat kecil dan memanjang seperti pipa, tetapi ada juga yang membentuk setengah lingkaran pada penampang daun melintang. Bagian ujung daun meruncing, sedangkan bagian bawahnya melebar dan membengkak, daunnya berwarna hijau (rahayu dan berlian, 1999). Bawang merah memiliki umbi lapis yang bervariasi dan ada juga yang berbentuk bulat, bundar seperti gasing yang terbalik sampai berbentuk pipih, ukuran umbi ada yang besar, sedang dan kecil. Warna kulit umbinya ada yang berwarna kuning, merah muda, hingga merah tua ataupun merah keunguan. Baik biji maupun umbi lapis dapat di jadikan sebagai bahan perbanyakan tanaman (jaelani, 2007). 
Bunga bawang merah berbentuk tandan yang mengandung 50-200 kuntuk bunga. Setelah tepung sari matang, tangkai bunga berhenti memanjang dan bunga bawang merah adalah bunga sempurna yang terdiri dari 5-6 helai benang sari dan sebuah putik. Bunga berwarna putih dan bakal buah di atas membentuk bangun segitiga sehingga kelihatan seperti kubah (samadi dan cahyoni, 2005). Letak bakal biji dalam ruang bakal buah (ovarium) terbalik atau dikenal dengan istilah anatropus. Oleh karena itu, bakal biji bawang merah berada dekat dengan plasentanya dan biji bawang merah yang masih muda berwarna putih dan setelah tua biji bawang merah akan berwarna hitam (rahayu dan berlian, 1999).
2.2  Klasifikasi Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)
 Klasifikasi bawang putih (Allium Ascalonicum L) yaitu :
Divisi               : Spermatophyta
Sub Divisi       : Angiospermae
Class                : Monokotiledonae
Ordo                : Liliales/Liliflorae
Family              : Liliaceae
Genus              : Allium
Spesies            : Allium Ascalonicum atau Allium Cepa var. Ascalonicum
2.3 Jenis Tanah
Berbagai tipe tanah dapat ditanami bawang merah, tetapi harus memenuhi syarat antara lain gembur, kandungan humus tinggi, serta drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) baik (Umboh, 2000). Tanah yang gembur dan subur akan mendorong perkembangan umbi sehingga hasilnya besar-besar. Jenis tanah yang paling baik adalah tanah lempung yang berpasir atau berdebu (Wibowo, 2008).
Jenis tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman bawang merah  adalah grumusol (ultisol). Kondisi tanah yang porous menstimulir perkembangan akar dan bulu-bulu akar sehingga serapan unsur hara akan berjalan dengan baik. Pada musim penghujan kurang baik digunakan untuk penanaman bawang merah karena suhu rendah dan kondisi tanah terlalu basah sehingga mempersulit pembentukan siung (Thomsom, 2007). Jenis tanah untuk penanaman bawang merah lebih baik menggunakan tanah yang berpasir. Tetapi dengan percobaan atau penanaman bawang merah yang akan kami gunakan adalah jenis tanah yang berwarna merah yang di sekitar unimor.


2.4  Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum  L)
Budidaya bawang merah pada daerah-daerah yang beriklim kering, dengan suhu udara yang cukup tinggi dan penyinaran matahari yang penuh akan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman yang optimal. Secara umum tanaman bawang merah lebih cocok diusahakan secara agribisnis/komersial di daerah dataran rendah pada akhir musim penghujan, atau pada saat musim kemarau, dengan penyediaan air irigasi yang cukup untuk keperluan tanaman (Deptan, 2003).
Pertumbuhan tanaman lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, iklim, CO2 yang dapat memacu pertumbuhan tanaman (Gardner, dkk., 1991).  Tanaman bawang merah ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal. Tanaman bawang merah masih dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya rata- rata 220C, tetapi hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udaranya lebih panas (Sumarni dan Hidayat, 2005).
2.5  Komposisi Kimia Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)
Tanaman bawang merah (Allium Ascalonicum L) memiliki aroma yang  menusuk tajam dan rasa yang persisten. Tanaman bawang putih memiliki aroma  yang khas berasal dari zat aktif utama yaitu allicin. Aroma yang dihasilkan ketika senyawa allicin bereaksi dengan enzim alinase. Minyak atsiri yang dihasilkan dari  umbi bawang putih berkisar antara 0,1-0,3 % dengan kandungan allil propil dan  dialil disulfida. Bawang merah memiliki kandungan enzim-enzim antara lain allinase, peroxides, dan myrosinase (Kemper, 2000).
Bahan yang terkandung dalam beberapa jenis bawang kadar airnya cukup tinggi, yaitu antara 63 ml- 90 ml, sedangkan komponen utamanya adalah protein, karbohidrat, dan lemak. Komponen ini merupakan zat organik yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia serta untuk kelangsungan hidupnya. Disamping itu, sebagian besar bawang merah mengandung zat-zat seperti : kalsium, besi, serta unsur kimia lainnya bahkan jenis bawang tertentu mengandung vitamin A dan serat (crude fibre).
2.6  Pupuk Bokashi
Kompos adalah hasil dari salah satu proses perombahkan oleh bakteri pengurai, aktivator dekomposisi adalah salah satu mikroba unggulan seperti Lactobacillus sp, ragi dan jamur serta Cellulolytic Bacillus sp, sebagai pengurai bahan  organik limbah, pertanian, peternakan dan lain-lain. Kemampuan aktivator tersebut adalah menurunkan rasio dalam bahan sampah, kotoran ternak, jerami padi, yang awalnya tinggi menjadi setara dengan angka tanah. Rasio antara karbohidrat dan nitrogen rendah sebagaimana tanah menjadikan bahan jerami padi sebagai pupuk bokashi yang dapat diserap oleh tanaman.
Bokashi adalah suatu kata dari bahasa jepang bahan organik yang telah di fermentasi, pupuk bokashi dibuat dengan cara fermentasi dan menggunakan aktifator bakteri pengurai atau EM4 (efektif mikroorganisme). Bokashi sudah digunakan petani jepang dalam perbaikan tanah secara tradisional dalam upaya meningkatkan mikroba dalam tanah dan meningkatkan unsur hara dalam tanah (Nasir 2007).
Menurut salam (2008), bokashi merupakan sebuah akronim dari bahan organik yang kaya akan sumber kehidupan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bahan-bahan organik yang telah difermentasikan oleh EM4 (Efektif Mikroorganisme). Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kita seperti, rumput, gamal, sekam padi, serbuk kayu, daun lamtoro, sisa-sisa sayur, gula pasir dan EM4 (efektif mikroorganisme). Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi  yang sangat baik untuk mikroorganisme (Ritapunto, 2008).
2.7  Pengaruh Pemberian Bokashi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Bawang Merah
Bokashi dapat digunakan dari 3-14 hari setelah perlakuan fermentasi. Bokashi sangat baik digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, bila bokashi diaplikasikan pada tanah maka akan berfungsi sebagai media atau pakan untuk perkembangan mikroorganisme, sekaligus menambah unsur hara dalam tanah. Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas suatu tanaman.
Pada dasarnya jenis dan jumlah unsur hara yang tersedia di dalam tanah harus cukup seimbang untuk pertumbuhan agar tingkat produktifitas dapat tercapai dengan baik. Bokashi mempunyai kandungan hara mikro dalam jumlah yang cukup dan sangat di perlukan untuk pertumbuhan tanaman dengan karateristik yaitu unsur hara yang berasal dari bahan organik memerlukan kegiatan mikroba untuk merubah dari bentuk ikatan kompleks organik yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan akan dibentuk menjadi senyawa organik dan anorganik sederhana yang dapat diserap oleh tanaman (adianto 1993 dan Arinong 2005).
Dalam pemanfaatan bokashi dapat meningkatkan konsentrasi hara di dalam tanah. Selain itu, bokashi juga dapat memperbaiki tata udara dan air tanah. Perakaran tanaman akan berkembang dengan baik dan akar dapat menyerap unsur hara yang lebih banyak, sehingga aktivitas fotosintesis lebih meningkat dan dapat meningkatkan jumlah dan lebar daun.



BAB III
METODOLOGI RANCANGAN PERCOBAAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini yang telah dilakukan disamping laboratorium Fip Biologi pada bulan Juni-Juli 2017.
3.2 Alat Dan Bahan
            Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
NO
ALAT
BAHAN
1.
Linggis
Karung
2.
Parang
EM4
3.
Alat tulis
Sisa-sisa sayur
4.
Skop
Bibit bawang merah
5.
Polybag 3 kg
Kantong plastik
6.
Kertas label
Tanah unimor
7.
Isolasi bening
Air
8.
Penggaris
Pupuk bokashi
9.
Tali raffia
Kayu
10.
Gunting

           














3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diberikan adalah konsentrasi pemberian pupuk bokashi cair pada bawang merah (Allium Ascaloticum L) dengan pengulangan sebanyak lima (5) kali. Dengan 1 perlakuan dan 1 perulangan sehinggga diperoleh  25 unit percobaan.

M0 : tanpa pemberian pupuk bokasi cair 
Ml  : pupuk bokasi cair konsentrasi 40  ml/l
M2 : pupuk bokasi cair konsentrasi 50  ml/l
M3 : pupuk bokasi cair konsentrasi 60  ml/l
M4 : pupuk bokasi cair konsentrasi 70  ml/l
3.4   Prosedur Kerja
a.    Pembuatan Pupuk Bokashi
1)   Daun gamal, daun lamtoro, sisa-sisa sayur dan jenis tumbuhan lainnya dipotong-potong.
2)   Tumbuhan yang sudah di potong-potong di campur dengan sekam padi dan serbuk kayu menjadi satu.
3)   Melubangkan karung kecil-kecil disetiap bagian karung.
4)   Ember di isi air ½, tuangkan gula pasir ½ ke dalam ember yang diisi air dan di campurkan dengan EM4 dan di aduk hingga rata.
5)   Tumbuhan yang sudah di campur diisi di dalam karung dan ikat karung itu dengan kuat.
6)   Masukan karung itu ke dalam ember yang sudah di campurkan dengan EM4 dan tutup ember itu dengan rapat.
7)   Bokashi dapat digunakan setelah 14 hari perlakuan fermentasi  (dalam waktu 2 minggu) ditandai dengan munculnya benang-benang putih yang menutupi permukaan gundukan bokashi dengan suhu yang kembali normal.
b.   Teknik Penanaman Umbi
Sebelum melakukan penanaman terlebih dahulu kita menyiapkan medianya yaitu tanah yang diambil di sekitar kampus unimor dan juga menyiapkan polibeg. Setelah itu, kita gemburkan tanah, lalu kita isi tanah ke dalam polibag, kemudian sebelum melakukan penanaman terlebih dahulu tanah diisi di dalam polibag, kemudian kita menyiram tanah sampai benar-benar basah. Selanjutnya kita menanam bawang merah di dalam polibag dengan diameter dan tinggi lalu dibuat lubang tanam dengan kedalaman kurang lebih 5-7cm menggunakan kayu. Kemudian bibit bawang merah dimasukkan secara tegak kedalam lubang tanam di tutup dengan tanah setebal 5cm pada masing-masing polibag.
c.    Teknik Pemeliharaan
1)      Kita harus melakukan penyiraman sesudah menanam bibit bawang merah, kemudian penyiraman yang dilakukan 2 atau 3 kali dalam seminggu agar tanaman bawang merah bisa berkembang dengan baik dan penyiraman biasanya dilakukan pada sore hari.
2)      Kita harus mengamati setiap perkembangan bawang merah yang ditanam sekurang-kurangnya 4 kali dalam seminggu.
3)      Pemupukan dilakukan pada umur 14 hari setelah masa tanam dengan menggunakan pupuk bokashi cair.
4)      Setelah kita mengamati dan tanaman bawang merah yang mulai tumbuh, maka yang harus kita lakukan yaitu menghitung jumlah daun bawang merah di setiap polibag.
5)      Sebelum kita menyiram bawang merah dengan pupuk terlebih dahulu kita menghitung jumlah daun bawang merah.
6)      Kita menyiram bawang merah dengan pupuk bokashi untuk mengetahui apakah ada perubahan pada tanaman bawang merah atau tidak.
3.5     3.5 Analisis Data 
Data yang diperoleh di uji analisis statistik menggunakan program pengolah data di computer yaitu Excel. Data hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji analisis sidik ragam (Anova).






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
            Data hasil untuk pengamatan menghitung jumlah daun (helai) bahwa sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan pupuk bokashi berpengaruh pada umur 28 hari. Terbentuknya anakan yang lebih banyak dan diikuti dengan munculnya daun yang lebih banyak dan luas, dan juga lebih besar dengan meningkatnya hasil fotosintesis yang lebih banyak.
·      Jumlah daun sebelum penyiraman pupuk
Tabel. 1
Perlakuan
Perulangan
Jumlah
Nilai rata-rata
1
2
3
4
5
P0
16
22
22
22
24
106
21.2
P1
3
10
14
18
14
59
11.8
P2
26
14
15
9
22
86
17.2
P3
23
7
14
26
14
84
16.8
P4
15
22
20
11
9
77
15.4

Tabel. 2
ANOVA






Source of Variation
SS
Df
MS
F
P-value
F crit
Between Groups
766.1333
4
191.5333
0.246474
0.909073
2.75871
Within Groups
19427.33
25
777.0933

Total
20193.47
29










·         Jumlah daun sesudah pupuk
Tabel. 3
Perlakuan
Perulangan
Jumlah
Nila rata-rata
1
2
3
4
5
P0
15
41
55
46
57
214
42,8
P1
26
33
43
33
90
225
45
P2
48
22
34
10
52
166
23,2
P3
43
43
72
37
20
215
43
P4
57
36
50
29
27
199
23,8

Tabel. 4
ANOVA
Source of Variation
SS
Df
MS
F
P-value
F crit
Between Groups
1273.5
4
318.375
0.93796
0.468703
3.055568
Within Groups
5091.5
15
339.4333
Total
6365
19



    




4.2 Pembahasan
            Berdasarkan pengamatan selama 2 minggu maka dapat dilihat bahwa perkembangan rata-rata jumlah daun pada tanaman bawang merah yang paling efektif adalah P1 (45) yaitu tanaman yang disiram dengan pupuk bokashi cair dengan ukuran 40ml/air. Hal ini dapat disebabkan oleh karena tanaman bawang merah ini dapat menyerap pupuk bokashi cair dengan bail dan cocok untuk tanaman bawang merah, maka dari itu pertumbuhan jumlah daun pada P1 sangat baik. Sedangkan rata-rata pertumbuhan jumlah daun yang kurang baik terjadi pada P2 (23,2) dengan jenis pupuk bokashi cair yaitu dengan konsentrasi 50ml/air. Hal ini disebabkan karena beberapa factor yaitu diantaranya sulitnya tanaman ini menyerap pupuk bokashi cair ini dengan tanaman bawang merah, maka dari itu pertumbuhan jumlah daun kurang baik.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
            Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1)      Pembuatan pupuk cair atau pupuk bokashi dibuat dengan cara fermentasi dan menggunakan bahan-bahan dari dari sisa-sisa sayur dan juga menggunakan bakteri pengurai atau EM4.
2)      Dari hasil pemberian pupuk maka ada perbedaan pada pertumbuhan bawang merah yang sebelum di siram pupuk dan yang sudah diberi pupuk perbedaannya di lihat dari jumlah daun dan perkembangannya.
1.1  Saran
Dalam penelitian tanaman bawang merah yang telah kami lakukan dengan menggunakan tanah di unimor dan disarankan untuk menggunakan pemakaian pupuk bokashi dengan konsentrasi yang lebih tinggi untuk meningkatkan keberhasilan dan hasil produksi yang maksimal dari suatu tanaman yang dibudidayakan.
           


DAFTAR PUSTAKA
Estu, Rahayu., dan Berlian VA, Nur. 2007. Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lingga, P., dan Marsono. 2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mustamar. E. S. 2006. Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Padat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Krishnawati, Desiree. 2001 Pengaruh Pemberian Pupuk Kascing Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Kentang. Jurusan F-MIPA, ITS, Surabaya

Sumarni, N, dan Hidayat, A., 2005. Panduan Teknis Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Lembang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laporan Rancangan Percobaan

LAPORAN RANCANGAN   PERCOBAAN “PENGARUH PUPUK BOKASHI TERHADAP TANAMAN BAWANG MERAH ( ALLIUM ASCALONICUM   L)” OLEH KELOMPOK 1...