LAPORAN RANCANGAN PERCOBAAN
“PENGARUH
PUPUK BOKASHI TERHADAP TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM L)”

OLEH
KELOMPOK
1. SEBASTIANUS
B. BEREK 33140001
2. JENI
S. BANI 33140005
3. SANTISIA
SARE 33140006
4. MARIA
F. AFEANPAH 33140012
5. ADRIANA
M. AEK 33140022
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TIMOR
KEFAMENANU
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bawang merah (Allium Ascalonicum L) sebenarnya
berasal dari asia tenggara diantaranya di cina dan jepang yang beriklim
subtropik. Dari sini, bawang merah menyebar keseluruh Asia, Eropa, dan akhirnya
keseluruh dunia. Di Indonesia bawang merah dibawah oleh pedagang cina dan arab,
kemudian dibudidayakan di daerah pesisir atau daerah pantai seiring dengan
berjalannya waktu kemudian masuk ke daerah pedalaman dan akhirnya bawang merah,
akrab dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Peranannya sebagai bumbu
penyedap masakan modern sampai sekarang tidak tergoyahkan oleh penyedap masakan
buatan yang banyak kita temui di kemas sedemikian menariknya (Syamsiah, 2003).
Tanaman bawang
merah (Allium Ascalonicum L) adalah
tanaman holtikultura yang memiliki banyak manfaat terutama umbinya berguna
sebagai bumbu untuk memasak dan dapat digunakan untuk mengobati beberapa
penyakit seperti infeksi pernapasan dan untuk meningkatkan vitalitas tubuh
(Pratimi, 1995). (Wijaya, 2014) menyatakan
bahwa produksi bawang merah di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan
kebutuhan pangan masyarakat sehingga menyebabkan selisih dan kekosongan yang
cukup besar diantaranya konsumsi dan produksi dalam negeri.
Bawang merah
(Allium Ascalonicum L), telah lama digunakan sebagai pemberi aroma dan
berpotensi untuk mencegah serta menyembuhkan berbagai penyakit (amage et al.
2006). Banyak studi terbaru menunjukan efek farmakalogis bawang merah (Allium Ascalonicum L), seperti anti
bakteri, anti jamur, hipolipidemik, hipoglikemik, anti trombotik, anti
dioksidan (Song, 2011). Umbi bawang merah mengandung zat aktif allicin yang
memiliki efek bakteriostatis dan bakteriosidal (untari, 2010). Jenis bawang
merah (Allium Ascalonicum L) yang
banyak ditemui di Indonesia adalah lumbuh hijau, luimbu kuning, Cirebon,
tawangmangu, jenis iliocos dan Filipina dan jenis Thailand. Lumbuh hijau
merupakan varietas unggul yang memiliki potensi produksi tinggi dan di anjurkan
untuk ditanam (Rukmana, 2012).
Rendahnya
produksi bawang merah sangat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain
iklim, teknik budidaya, penggunaan varietas, dan serangan hama dan penyakit
(sunarjo dan soedomo, 1989). Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi
bawang merah local melalui teknik budidaya adalah dengan pemberian pupuk
bokashi. Pupuk bokashi, pupuk organik yang berbentuk cair atau padat. Pupuk
bokashi merupakan alternative dalam penerapan teknologi pertanian organik yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Bokashi mempunyai prospek yang baik
untuk dijadikan pupuk organic karena mempunyai kandungan unsur hara yang cukup
tinggi. Pupuk bokashi dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan
organic dengan teknologi EM4 (effective mikroorganisme 4). Bakteri EM4
berfungsi untuk mempercepat proses pembusukkan, penggunaan pupuk bokashi
sebagai pupuk organik, pada tanaman sangat diperlukan karena bahan organic
menggantikan unsur hara tanah dan memperbaiki fisik tangah dan meningkatkan
kemampuan tanah dalam mengikat unsur hara. Oleh karena itu, pupuk bokashi
diharapkan mampu mendukung usaha pertanian dan bisa mengatasi kelangkaan serta
mahalnya pupuk buatan yang terjadi pada saat ini (shoereayanto, 2002).
Tanah adalah
bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah memiliki
peran penting bagi kehidupan dibumi karena tanah mendukung kehidupan bagi
tumbuhan dengan menyediakan unsur hara dan air yang sekaligus sebagai penopang
akar. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan pengamatan komponen yang
tumbuh yang meliputi, jumlah daun pada saat tanaman berumur 1 minggu setelah
tanam.
1.2
Rumusan
Masalah
Rumusan
permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana proses pertumbuhan bawang
merah (Allium Ascalonicum L) dengan
konsentrasi pupuk bokashi cair yang berbeda ?
1.3
Tujuan
Penelitian
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pertumbuhan bawang merah (Allium Ascalonicum L) dengan konsentrasi
pupuk bokashi cair yang berbeda.
1.4
Manfaat
penelitian
Manfaat
dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang pengaruh pupuk
bokashi terhadap bawang merah (Allium
Ascalonicum L) dengan konsentrasi pupuk bokashi yang berbeda.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum
L)
Bawang merah merupakan tanaman rendah
yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 15-50cm, membentuk rumpun dan
termasuk tanaman semusim. Perakarannya berupa akar serabut yang tidak panjang
dan tidak terlalu dalam tertanam dalam tanah (wibowo, 2008). Bawang merah
memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya seperti cakram, tipis
dan pendek sebagai tempat melekat perakaran dan mata tunas. Dibagian atas
discus terbentuk batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun dan batang
semu berada di dalam tanah akan berubah bentuk dan fungsinya menjadi umbi (Rukmana,
1995).
Bentuk
daun bawang merah bulat kecil dan memanjang seperti pipa, tetapi ada juga yang
membentuk setengah lingkaran pada penampang daun melintang. Bagian ujung daun
meruncing, sedangkan bagian bawahnya melebar dan membengkak, daunnya berwarna hijau
(rahayu dan berlian, 1999). Bawang merah memiliki umbi lapis yang bervariasi
dan ada juga yang berbentuk bulat, bundar seperti gasing yang terbalik sampai
berbentuk pipih, ukuran umbi ada yang besar, sedang dan kecil. Warna kulit
umbinya ada yang berwarna kuning, merah muda, hingga merah tua ataupun merah
keunguan. Baik biji maupun umbi lapis dapat di jadikan sebagai bahan perbanyakan
tanaman (jaelani, 2007).
Bunga
bawang merah berbentuk tandan yang mengandung 50-200 kuntuk bunga. Setelah
tepung sari matang, tangkai bunga berhenti memanjang dan bunga bawang merah
adalah bunga sempurna yang terdiri dari 5-6 helai benang sari dan sebuah putik.
Bunga berwarna putih dan bakal buah di atas membentuk bangun segitiga sehingga
kelihatan seperti kubah (samadi dan cahyoni, 2005). Letak bakal biji dalam
ruang bakal buah (ovarium) terbalik atau dikenal dengan istilah anatropus. Oleh
karena itu, bakal biji bawang merah berada dekat dengan plasentanya dan biji
bawang merah yang masih muda berwarna putih dan setelah tua biji bawang merah
akan berwarna hitam (rahayu dan berlian, 1999).
2.2 Klasifikasi
Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)
Klasifikasi bawang putih (Allium Ascalonicum
L) yaitu :
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Monokotiledonae
Ordo : Liliales/Liliflorae
Family : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium Ascalonicum atau Allium Cepa var. Ascalonicum
2.3 Jenis Tanah
Berbagai
tipe tanah dapat ditanami bawang merah, tetapi harus memenuhi syarat antara
lain gembur, kandungan humus tinggi, serta drainase (tata air) dan aerasi (tata
udara) baik (Umboh, 2000). Tanah yang gembur dan subur akan mendorong
perkembangan umbi sehingga hasilnya besar-besar. Jenis tanah yang paling baik
adalah tanah lempung yang berpasir atau berdebu (Wibowo, 2008).
Jenis
tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman bawang merah adalah grumusol (ultisol). Kondisi tanah yang
porous menstimulir perkembangan akar dan bulu-bulu akar sehingga serapan unsur
hara akan berjalan dengan baik. Pada musim penghujan kurang baik digunakan
untuk penanaman bawang merah karena suhu rendah dan kondisi tanah terlalu basah
sehingga mempersulit pembentukan siung (Thomsom, 2007). Jenis tanah untuk
penanaman bawang merah lebih baik menggunakan tanah yang berpasir. Tetapi
dengan percobaan atau penanaman bawang merah yang akan kami gunakan adalah
jenis tanah yang berwarna merah yang di sekitar unimor.
2.4 Syarat
Tumbuh Tanaman Bawang Merah (Allium
Ascalonicum L)
Budidaya
bawang merah pada daerah-daerah yang beriklim kering, dengan suhu udara yang
cukup tinggi dan penyinaran matahari yang penuh akan dapat menyebabkan
pertumbuhan tanaman yang optimal. Secara umum tanaman bawang merah lebih cocok
diusahakan secara agribisnis/komersial di daerah dataran rendah pada akhir
musim penghujan, atau pada saat musim kemarau, dengan penyediaan air irigasi
yang cukup untuk keperluan tanaman (Deptan, 2003).
Pertumbuhan
tanaman lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, iklim, CO2
yang dapat memacu pertumbuhan tanaman (Gardner, dkk., 1991). Tanaman bawang merah ini membutuhkan
penyinaran cahaya matahari yang maksimal. Tanaman bawang merah masih dapat
membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya rata- rata 220C, tetapi
hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udaranya lebih panas (Sumarni
dan Hidayat, 2005).
2.5 Komposisi Kimia Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)
Tanaman
bawang merah (Allium Ascalonicum L)
memiliki aroma yang menusuk tajam dan
rasa yang persisten. Tanaman bawang putih memiliki aroma yang khas berasal dari zat aktif utama yaitu
allicin. Aroma yang dihasilkan ketika senyawa allicin bereaksi dengan enzim
alinase. Minyak atsiri yang dihasilkan dari
umbi bawang putih berkisar antara 0,1-0,3 % dengan kandungan allil
propil dan dialil disulfida. Bawang
merah memiliki kandungan enzim-enzim antara lain allinase, peroxides, dan
myrosinase (Kemper, 2000).
Bahan
yang terkandung dalam beberapa jenis bawang kadar airnya cukup tinggi, yaitu
antara 63 ml- 90 ml, sedangkan komponen utamanya adalah protein, karbohidrat,
dan lemak. Komponen ini merupakan zat organik yang diperlukan untuk pertumbuhan
dan perkembangan tubuh manusia serta untuk kelangsungan hidupnya. Disamping
itu, sebagian besar bawang merah mengandung zat-zat seperti : kalsium, besi,
serta unsur kimia lainnya bahkan jenis bawang tertentu mengandung vitamin A dan
serat (crude fibre).
2.6 Pupuk
Bokashi
Kompos
adalah hasil dari salah satu proses perombahkan oleh bakteri pengurai,
aktivator dekomposisi adalah salah satu mikroba unggulan seperti Lactobacillus
sp, ragi dan jamur serta Cellulolytic Bacillus sp, sebagai pengurai bahan organik limbah, pertanian, peternakan dan
lain-lain. Kemampuan aktivator tersebut adalah menurunkan rasio dalam bahan
sampah, kotoran ternak, jerami padi, yang awalnya tinggi menjadi setara dengan
angka tanah. Rasio antara karbohidrat dan nitrogen rendah sebagaimana tanah
menjadikan bahan jerami padi sebagai pupuk bokashi yang dapat diserap oleh
tanaman.
Bokashi
adalah suatu kata dari bahasa jepang bahan organik yang telah di fermentasi,
pupuk bokashi dibuat dengan cara fermentasi dan menggunakan aktifator bakteri
pengurai atau EM4 (efektif mikroorganisme). Bokashi sudah digunakan petani
jepang dalam perbaikan tanah secara tradisional dalam upaya meningkatkan
mikroba dalam tanah dan meningkatkan unsur hara dalam tanah (Nasir 2007).
Menurut
salam (2008), bokashi merupakan sebuah akronim dari bahan organik yang kaya
akan sumber kehidupan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bahan-bahan organik
yang telah difermentasikan oleh EM4 (Efektif Mikroorganisme). Bahan untuk
pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kita seperti, rumput,
gamal, sekam padi, serbuk kayu, daun lamtoro, sisa-sisa sayur, gula pasir dan
EM4 (efektif mikroorganisme). Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai
bahan pembuatan pupuk bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme
(Ritapunto, 2008).
2.7
Pengaruh Pemberian Bokashi Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Bawang Merah
Bokashi
dapat digunakan dari 3-14 hari setelah perlakuan fermentasi. Bokashi sangat
baik digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, bila
bokashi diaplikasikan pada tanah maka akan berfungsi sebagai media atau pakan
untuk perkembangan mikroorganisme, sekaligus menambah unsur hara dalam tanah.
Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas suatu tanaman.
Pada
dasarnya jenis dan jumlah unsur hara yang tersedia di dalam tanah harus cukup
seimbang untuk pertumbuhan agar tingkat produktifitas dapat tercapai dengan
baik. Bokashi mempunyai kandungan hara mikro dalam jumlah yang cukup dan sangat
di perlukan untuk pertumbuhan tanaman dengan karateristik yaitu unsur hara yang
berasal dari bahan organik memerlukan kegiatan mikroba untuk merubah dari
bentuk ikatan kompleks organik yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan
akan dibentuk menjadi senyawa organik dan anorganik sederhana yang dapat
diserap oleh tanaman (adianto 1993 dan Arinong 2005).
Dalam
pemanfaatan bokashi dapat meningkatkan konsentrasi hara di dalam tanah. Selain
itu, bokashi juga dapat memperbaiki tata udara dan air tanah. Perakaran tanaman
akan berkembang dengan baik dan akar dapat menyerap unsur hara yang lebih
banyak, sehingga aktivitas fotosintesis lebih meningkat dan dapat meningkatkan
jumlah dan lebar daun.
BAB
III
METODOLOGI
RANCANGAN PERCOBAAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian
Penelitian ini yang telah dilakukan
disamping laboratorium Fip Biologi pada bulan Juni-Juli 2017.
3.2 Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
NO
|
ALAT
|
BAHAN
|
1.
|
Linggis
|
Karung
|
2.
|
Parang
|
EM4
|
3.
|
Alat
tulis
|
Sisa-sisa
sayur
|
4.
|
Skop
|
Bibit
bawang merah
|
5.
|
Polybag
3 kg
|
Kantong
plastik
|
6.
|
Kertas
label
|
Tanah
unimor
|
7.
|
Isolasi
bening
|
Air
|
8.
|
Penggaris
|
Pupuk
bokashi
|
9.
|
Tali
raffia
|
Kayu
|
10.
|
Gunting
|
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis
penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL). Perlakuan yang diberikan adalah konsentrasi pemberian pupuk bokashi cair
pada bawang merah (Allium Ascaloticum
L) dengan pengulangan sebanyak lima (5) kali. Dengan 1 perlakuan dan 1
perulangan sehinggga diperoleh 25 unit
percobaan.
M0 : tanpa pemberian pupuk bokasi
cair
Ml
: pupuk bokasi cair konsentrasi 40
ml/l
M2 : pupuk bokasi cair konsentrasi
50 ml/l
M3 : pupuk bokasi cair konsentrasi
60 ml/l
M4 : pupuk bokasi cair konsentrasi
70 ml/l
3.4
Prosedur Kerja
a. Pembuatan
Pupuk Bokashi
1) Daun
gamal, daun lamtoro, sisa-sisa sayur dan jenis tumbuhan lainnya
dipotong-potong.
2) Tumbuhan
yang sudah di potong-potong di campur dengan sekam padi dan serbuk kayu menjadi
satu.
3) Melubangkan
karung kecil-kecil disetiap bagian karung.
4) Ember
di isi air ½, tuangkan gula pasir ½ ke dalam ember yang diisi air dan di
campurkan dengan EM4 dan di aduk hingga rata.
5) Tumbuhan
yang sudah di campur diisi di dalam karung dan ikat karung itu dengan kuat.
6) Masukan
karung itu ke dalam ember yang sudah di campurkan dengan EM4 dan tutup ember
itu dengan rapat.
7) Bokashi
dapat digunakan setelah 14 hari perlakuan fermentasi (dalam waktu 2 minggu) ditandai dengan
munculnya benang-benang putih yang menutupi permukaan gundukan bokashi dengan
suhu yang kembali normal.
b. Teknik
Penanaman Umbi
Sebelum melakukan penanaman terlebih
dahulu kita menyiapkan medianya yaitu tanah yang diambil di sekitar kampus
unimor dan juga menyiapkan polibeg. Setelah itu, kita gemburkan tanah, lalu
kita isi tanah ke dalam polibag, kemudian sebelum melakukan penanaman terlebih
dahulu tanah diisi di dalam polibag, kemudian kita menyiram tanah sampai
benar-benar basah. Selanjutnya kita menanam bawang merah di dalam polibag
dengan diameter dan tinggi lalu dibuat lubang tanam dengan kedalaman kurang
lebih 5-7cm menggunakan kayu. Kemudian bibit bawang merah dimasukkan secara
tegak kedalam lubang tanam di tutup dengan tanah setebal 5cm pada masing-masing
polibag.
c. Teknik
Pemeliharaan
1) Kita
harus melakukan penyiraman sesudah menanam bibit bawang merah, kemudian penyiraman
yang dilakukan 2 atau 3 kali dalam seminggu agar tanaman bawang merah bisa
berkembang dengan baik dan penyiraman biasanya dilakukan pada sore hari.
2) Kita
harus mengamati setiap perkembangan bawang merah yang ditanam
sekurang-kurangnya 4 kali dalam seminggu.
3) Pemupukan
dilakukan pada umur 14 hari setelah masa tanam dengan menggunakan pupuk bokashi
cair.
4) Setelah
kita mengamati dan tanaman bawang merah yang mulai tumbuh, maka yang harus kita
lakukan yaitu menghitung jumlah daun bawang merah di setiap polibag.
5) Sebelum
kita menyiram bawang merah dengan pupuk terlebih dahulu kita menghitung jumlah
daun bawang merah.
6) Kita
menyiram bawang merah dengan pupuk bokashi untuk mengetahui apakah ada perubahan
pada tanaman bawang merah atau tidak.
3.5 3.5 Analisis Data
Data yang diperoleh di uji analisis
statistik menggunakan program pengolah data di computer yaitu Excel. Data hasil
penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji analisis sidik ragam (Anova).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Data hasil untuk
pengamatan menghitung jumlah daun (helai) bahwa sebelum perlakuan dan sesudah
perlakuan pupuk bokashi berpengaruh pada umur 28 hari. Terbentuknya anakan yang
lebih banyak dan diikuti dengan munculnya daun yang lebih banyak dan luas, dan
juga lebih besar dengan meningkatnya hasil fotosintesis yang lebih banyak.
·
Jumlah daun sebelum
penyiraman pupuk
Tabel.
1
Perlakuan
|
Perulangan
|
Jumlah
|
Nilai rata-rata
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|||
P0
|
16
|
22
|
22
|
22
|
24
|
106
|
21.2
|
P1
|
3
|
10
|
14
|
18
|
14
|
59
|
11.8
|
P2
|
26
|
14
|
15
|
9
|
22
|
86
|
17.2
|
P3
|
23
|
7
|
14
|
26
|
14
|
84
|
16.8
|
P4
|
15
|
22
|
20
|
11
|
9
|
77
|
15.4
|
Tabel. 2
ANOVA
|
|||||||
Source of Variation
|
SS
|
Df
|
MS
|
F
|
P-value
|
F crit
|
|
Between
Groups
|
766.1333
|
4
|
191.5333
|
0.246474
|
0.909073
|
2.75871
|
|
Within
Groups
|
19427.33
|
25
|
777.0933
|
||||
Total
|
20193.47
|
29
|
·
Jumlah daun sesudah
pupuk
Tabel.
3
Perlakuan
|
Perulangan
|
Jumlah
|
Nila rata-rata
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|||
P0
|
15
|
41
|
55
|
46
|
57
|
214
|
42,8
|
P1
|
26
|
33
|
43
|
33
|
90
|
225
|
45
|
P2
|
48
|
22
|
34
|
10
|
52
|
166
|
23,2
|
P3
|
43
|
43
|
72
|
37
|
20
|
215
|
43
|
P4
|
57
|
36
|
50
|
29
|
27
|
199
|
23,8
|
Tabel.
4
ANOVA
|
||||||
Source of Variation
|
SS
|
Df
|
MS
|
F
|
P-value
|
F crit
|
Between Groups
|
1273.5
|
4
|
318.375
|
0.93796
|
0.468703
|
3.055568
|
Within Groups
|
5091.5
|
15
|
339.4333
|
|||
Total
|
6365
|
19
|
4.2 Pembahasan
Berdasarkan pengamatan selama 2
minggu maka dapat dilihat bahwa perkembangan rata-rata jumlah daun pada tanaman
bawang merah yang paling efektif adalah P1 (45) yaitu tanaman yang disiram
dengan pupuk bokashi cair dengan ukuran 40ml/air. Hal ini dapat disebabkan oleh
karena tanaman bawang merah ini dapat menyerap pupuk bokashi cair dengan bail
dan cocok untuk tanaman bawang merah, maka dari itu pertumbuhan jumlah daun
pada P1 sangat baik. Sedangkan rata-rata pertumbuhan jumlah daun yang kurang
baik terjadi pada P2 (23,2) dengan jenis pupuk bokashi cair yaitu dengan
konsentrasi 50ml/air. Hal ini disebabkan karena beberapa factor yaitu
diantaranya sulitnya tanaman ini menyerap pupuk bokashi cair ini dengan tanaman
bawang merah, maka dari itu pertumbuhan jumlah daun kurang baik.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian
yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Pembuatan
pupuk cair atau pupuk bokashi dibuat dengan cara fermentasi dan menggunakan bahan-bahan
dari dari sisa-sisa sayur dan juga menggunakan bakteri pengurai atau EM4.
2) Dari
hasil pemberian pupuk maka ada perbedaan pada pertumbuhan bawang merah yang
sebelum di siram pupuk dan yang sudah diberi pupuk perbedaannya di lihat dari
jumlah daun dan perkembangannya.
1.1
Saran
Dalam penelitian tanaman bawang merah
yang telah kami lakukan dengan menggunakan tanah di unimor dan disarankan untuk
menggunakan pemakaian pupuk bokashi dengan konsentrasi yang lebih tinggi untuk
meningkatkan keberhasilan dan hasil produksi yang maksimal dari suatu tanaman
yang dibudidayakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Estu,
Rahayu., dan Berlian VA, Nur. 2007. Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lingga, P., dan
Marsono. 2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mustamar.
E. S. 2006. Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Padat. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Krishnawati,
Desiree. 2001 Pengaruh Pemberian Pupuk Kascing Terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Kentang. Jurusan F-MIPA, ITS, Surabaya
Sumarni,
N, dan Hidayat, A., 2005. Panduan Teknis Budidaya Bawang Merah. Balai
Penelitian Tanaman Sayuran. Lembang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar